September 15, 2008

sUpeRnoVa



Kata ini punya dua makna. Supernova dalam dunia astronomi yang berarti bintang yang meledak di udara, dalam dunia linguistik nova juga berarti novel. Jadi lihat cara pemilihan kata ini saja sudah menjadi sebuah kecerdasan tersendiri.
Dengan arti yang pertama dalam dunia astronomi tadi, lalu dia dipadukan sebagai nama salah satu karakter tokoh, kata itu menjadi icon tersendiri. Supernova menjadi representasi karakter tokoh yang citranya seperti kata itu. Tokoh Diva yang juga dikenal sebagai Supernova, kalau kita baca, sangat impresif. Nah, bukankah pemandangan bintang yang meledak di angkasa adalah juga sesuatu yang sangat impresif?
Berkaitan dengan makna linguistik tadi, supernova berarti juga super novel. Lalu apanya yang super? Novel itu sendiri mengatasi kaidah-kaidah novel yang umum. Ia nggak seperti novel-novel pada umumnya yang hanya bermain-main dengan kata dan makna kata, ia juga bermain-main dengan komponen-komponen lainnya seperti jenis font, spasi, paragraph. Ketika hal itu dimainkan, ia tidak hanya jadi sekedar kata-kata biasa, tapi ada efek lain yang diciptakannya… bisa efek cepat, efek lambat dan lain-lainnya. Hal itu juga memberikan efek pada pemahaman soal ruang komunikasi misalnya. Ketika percakapan itu terjadi di internet, kita juga ikut merasakannya dengan gamblang karena memilih jenis font yang mendukung ke arah itu.
Hal yang dilakukan Dee di situ memang bukan hal yang baru dalam dunia literature. Penyair Prancis sudah memulai menggunakan kata-kata sebagai gambar pada abad 18-19, ketika puisi air mancur secara fisik juga terlihat seperti gambar air mancur. Aliran absurditas yang muncul di Eropa setelah Perang Dunia II juga sudah memakai model penceritaan yang mencampuradukkan berbagai topik dari mulai sejarah, sampai kimia dan fisika. Aliran posmodernisme dalam dunia literature juga sudah menelurkan sebuah karya novel yg huruf-huruf/kata-katanya diambil dari guntingan-guntingan koran, majalah, maupun buku-buku lainnya.
Konsep yang lain yang juga mengasyikkan dalam novel ini adalah model cerita berbingkai (cerita dalam cerita). Tapi tidak sekedar cerita berbingkai biasa, Supernova turut melibatkan pembacanya dalam mengikuti pembuatan cerita dan konsep berpikir di belakangnya. Satu hal yang menarik juga adalah bagaimana Dee meramu ilmu social dengan ilmu eksakta. Seringkali orang lupa tentang paduan keduanya dan justru memisahkan keduanya begitu jauh. Padahal kalau diperhatikan, penemuan-penemuan dalam dunia eksakta-lah yang juga berpengaruh besar pada perubahan-perubahan social. Penemuan mesin-mesin industri mengubah kehidupan social menjadi 3 strata social, penemuan pesawat telepon, lampu dsb jelas-jelas merubah pola kehidupan social.


diambil dari....bjoRk-ForUm kafegauL

Tidak ada komentar: