Juli 01, 2009

Ruang Rinduku



==tHa in 2006, with "dwipangga" ==
Ku teringat saat aq berdiri disampingnya dan mengulurkan tanganku, aq begitu bahagia akhirnya aq mampu wujudkan mimpiku. Saat terlontar kata, aq semakin bahagia bersama senyum dan suara manjaku. Aq berharap di depannya, akankah kau memelukku? Hem… sepertinya keraguan menyelimuti hatinya saat melihatku, tapi akhirnya toh dia yakin juga bahwa aq adalah orang yang pernah ia sayang.
Saat duduk disampingnya aq begitu merasa yakin bahwa aq pasti tak mimpi bersamanya dan ya… aq memang tak bermimpi berada di dekatnya.
Saat aq memeluk tubuhnya, aq serasa tak ingin melepaskannya dari cengkeramanku, namun aq harus melepaskannya, karena dia terjauh dariku.
Saat aq menciumnya, dalam hatiku berteriak, Pantaskah bibirku untuknya? Namun naluriku mengiyakan, dan aqpun menciumnya.
Saat tetes air mata dan kemarahanku memuncak karena sikapnya yang tak acuh padaku, aq terpuruk dalam jurang kesedihanku yang menari disela-sela kebahagianku yang tak lama itu.
Sungguh masa lalu itu selalu membayangiku, jalan terang hatiku pun tetap tertutup hanya untuk menunggu ulurannya lagi, namun setelah waktu berjalan, aq semakin tak mampu, keyakinan membuat aq semakin berharap dan berharap.
Pernahkah terbesit dalam otakku untuk meraih nyali itu? Nyali untuk tak lagi memikirkan kenangan sedetik itu? Kenangan yang selalu membuat hatiku sakit karena kata-kata seseorang yang selalu menyalahkanku karena aq telah merebut hatinya? Rasa bersalah terus mengelayuti otakku saat aq akhirnya mampu memeluk kembali tubuh itu. Saat aq menginginkan bibirku berlabuh di keningnya, aq tak mampu meluluhkan keinginannya untuk tak mengacuhkan aq. Sakit… aq sangat merasa sakit waktu itu, meski tawaku semakin tergelak karena aq berusaha berdiri di dalam keinginanku yang mengharapnyakan memanggilku dalam ruang rindunya.
Rahasia kecil itu kan terus tersimpan rapi, aq telah berjanji akan selalu memendamnya hingga suatu saat aq ingin pergi bersama mimpi-mimpiku bersama dalam surga waktu yang memintaku untuk berlari dalam keputusasaan yang mendera.
Terdengar alunan lagu kenangan itu membuat aq semakin menangis dalam senyum yang tertahan dalam bibirku, aq serasa ingin berlari padaNya, dan berteriak: Tuhanku, berikanlah sesuatu yang membuat aq mampu berdiri dalam lautan tangis dan jurang kesedihan ini, Tuhanku bukakan mataku bahwa aq harus mampu menerima dalam kelapangan bahwa dia hanya sebatas utusanMu untukku yang sekejap mata membuatku terbuai.
Untain kata, untain tangis, untaian kasih terajut jadi satu membentuk suatu tameng dalam hati untuk yang lain. Namun Tuhanku aq telah yakin… dia adalah utusanMu untukku.

Tidak ada komentar: